"Bu, kalo Ibu ditanya orang tentang apa yang Ibu cari di dunia ini, Ibu mau jawab apa? Koq Resti ga tau ya? Resti ga bisa jawab. Ga ada yang tanya sih, Bu. Tapi Resti pengen tau itu apa."
Kalo saja sms yang saya ketik barusan jadi saya kirim ke Ibu saya, pasti Ibu saya langsung khawatir dan mengira saya sedang dalam masalah yang rumit. Jadi, saya mengurungkan niat.
Saya seperti orang linglung. Hampir setiap waktu dalam hidup saya, saya gunakan dengan merenung, day dreaming, melamun, tanpa menemukan jalan keluar atau sekedar jawaban tentang apa yang terjadi dengan diri saya.
Apa saya sudah mulai gila?
Mungkin.
Saya sudah mulai gila dengan kegilaan saya.
Saya bahkan tidak paham terhadap diri saya sendiri. Bagaimana saya bisa mengurus suami dan anak-anak saya nanti? Bagaimana saya bisa memahami mereka?
Bagaimana saya bisa memahami orang-orang di sekitar saya?
Apa itu semua bisikan setan?
Atau sebuah teguran?
Entahlah.
Beberapa saat terakhir aku mulai sering meracau.
Berbicara sendiri.
Marah pada diri sendiri.
Kehilangan diriku sendiri.
Ibu, anakmu hilang.
Resti kecilmu hilang.
Tuesday, 25 September 2012
Thursday, 6 September 2012
Writing Something Useless
Malam ini malam Jumat. Tidak, saya tidak sedang membicarakan hal mistis ataupun sunah Rosul. Malam Jumat kali ini, untuk kesekian kalinya, saya sedang dilanda kesepian dan kegundahan yang tidak berkesudahan.
Sekali lagi saya merasa sepi. Ada sesuatu dalam diri saya yang tidak bisa saya pungkiri, sangat mengganggu dan menyita pikiran.
Disaat Anda sedang dalam posisi yang tidak menentu, dalam keadaan yang tidak bisa Anda ketahui sebabnya, apa yang akan Anda lakukan?
a. Pasrah
b. Mencari jalan keluar
c. Terus memikirkannya tanpa berbuat apa-apa
Jalan terbaiknya adalah option a dan b. Tapi saya sedang melakukan option c. Thinking so many things and doing nothing. So useless, strong-less, meaningless.
Menulis pun tidak tahu kemana arahnya, sudah merupakan bukti yang valid kalo hati dan pikiran sedang tidak fokus dan tersita entah kemana.
Ya. Saya mencari diri saya yang masih menghilang entah kemana. Menghilang untuk yang kesekian kalinya. Menghilang demi sesuatu yang tidak ada ujungnya.
Warm Regards,
RestiPucii
Sekali lagi saya merasa sepi. Ada sesuatu dalam diri saya yang tidak bisa saya pungkiri, sangat mengganggu dan menyita pikiran.
Disaat Anda sedang dalam posisi yang tidak menentu, dalam keadaan yang tidak bisa Anda ketahui sebabnya, apa yang akan Anda lakukan?
a. Pasrah
b. Mencari jalan keluar
c. Terus memikirkannya tanpa berbuat apa-apa
Jalan terbaiknya adalah option a dan b. Tapi saya sedang melakukan option c. Thinking so many things and doing nothing. So useless, strong-less, meaningless.
Menulis pun tidak tahu kemana arahnya, sudah merupakan bukti yang valid kalo hati dan pikiran sedang tidak fokus dan tersita entah kemana.
Ya. Saya mencari diri saya yang masih menghilang entah kemana. Menghilang untuk yang kesekian kalinya. Menghilang demi sesuatu yang tidak ada ujungnya.
Warm Regards,
RestiPucii
Monday, 27 August 2012
Me and My Brother
Woaaaaaa....!!! The nicest picture of mine. Wuuuups, I mean, the nicest picture of me and my brother. :)
I found it accidentally, when I felt so bored this afternoon, and I opened this, clicked that, wrote this, draw that, and anything. Then I found this!
Well, this cute picture was taken at Malang, East Java, my lovely hometown, the place where I found my first love (ups), the town where I graduated my college and become young bachelor, the town where I found my everlasting love. Those man, yes, the only man whose hand was holding my hand and his another hand was on my shoulder, was my brother. We were in, emmm, I am not pretty sure, but I try to remember that we were at my auntie's house at Sawojajar. What age? I am not really know, I was at what age at that time. When I showed this picture to my mom, she said that I already cried for something she did forget about. Then, you can see, my eyes, were swollen. Okay, lets stop telling the eyes of mine. I realize, they were so, so, so, swollen, round, big, and whatever.
Rossi Ernawan. Yes, he is my brother. The most handsome, kind, patient, and calm brother. I love him. I live with him, since I was a baby (of course, you both were sibling).
We have the same kindergarten, the same elementary school, until junior high school. So that, we were so close each other. But, you will not believe, that we're never agreed and almost quarell(ed) the whole time we were together. I dont know why, every little things could cause our fray. Hahaha, at least it was over when we were live and we struggle together in Jakarta. I feel so need him, he felt it too. Almost 2 years live together at my aunt's home in Jakarta, made us closer each other, giving support was the only thing we need at that time. Until at the day, when he decided to go back to our hometown, Malang. I was so sad, but I know and I should be more understand, it will be the best way for him. Until now, I always feel alone, when remember him and every time we have spend together at this town, Jakarta. And, this picture below, was the last day we stand together, before finally he stayed in East Java right now.
I accompanied him to go to Gambir station. I was so sad at that time, but I tried not to showed it to him. I start to be stronger, since he left. Well, until now, I can't be really strong and always feel lonely. But I am not stop to try, brad. You know, I can through this by my way.
Now, he already has his own life. He was a husband now. He has his new responsibility, to his wife, and his children later. Hope you always has the best for your life. Don't you forget, that my love for you will not be vanished by the time, situation or another bad thing around us, though I never say that, but you should know, that I REALLY LOVE YOU. Take care of your self and your wife.
Warm regards,
Your little sister
RestiPucii
Thursday, 23 August 2012
Does anyone care?
Is anyone care?
When this loneliness is killing me continuously.
Is anyone care?
When I feel empty and nothing can fill this emptiness.
When I am totally missing my family, my mom, my dad and absolutely the fragrance of my home's.
I am really lonely. It's not just a kind of the mourning of mine, a little girl with her strange new life. That was what I felt, and I don't have an exit.
My heart, my life, my soul, are extremely empty.
Where should I step my legs, what should I do, whose name I should call, whenever I feel this.
Is anyone care?
Feel like I face this whole strange and absurd world alone. No one beside me just to make me feel like I am not alone. No one in front of me, just to show me, which way I should choose. No one behind me, just to keep me, keep my step in order to make it still in the right way. I am totally lost. Lost in this fake world.
The sun has raised and setted thousand times, and I still feel nothing. I am just going nowhere. Still being useless and
What is distance? what is time? Why are you both, so disturbing?
Should I pretend to be strong, but deep inside my soul's totally weak.
I need a help. I don't really know, who can help me. Find me a way out. Show me the key, then I will open this door.
I lost, I locked.
I am no one.
I am nothing.
I am, what???
When this loneliness is killing me continuously.
Is anyone care?
When I feel empty and nothing can fill this emptiness.
When I am totally missing my family, my mom, my dad and absolutely the fragrance of my home's.
I am really lonely. It's not just a kind of the mourning of mine, a little girl with her strange new life. That was what I felt, and I don't have an exit.
My heart, my life, my soul, are extremely empty.
Where should I step my legs, what should I do, whose name I should call, whenever I feel this.
Is anyone care?
Feel like I face this whole strange and absurd world alone. No one beside me just to make me feel like I am not alone. No one in front of me, just to show me, which way I should choose. No one behind me, just to keep me, keep my step in order to make it still in the right way. I am totally lost. Lost in this fake world.
The sun has raised and setted thousand times, and I still feel nothing. I am just going nowhere. Still being useless and
What is distance? what is time? Why are you both, so disturbing?
Should I pretend to be strong, but deep inside my soul's totally weak.
I need a help. I don't really know, who can help me. Find me a way out. Show me the key, then I will open this door.
I lost, I locked.
I am no one.
I am nothing.
I am, what???
Wednesday, 22 August 2012
Titip Rindu untuk Sahabat
Well, kepulangan saya dalam rangka lebaran kemarin membawa sedikit oleh-oleh cerita. Cerita tentang seorang sahabat yang lucu, dan baik hati semasa kuliah. Sahabat yang tidak banyak bicara, tetapi sangat bermakna.
Jadi, kunjungan pertama saya saat tiba di rumah setelah sungkem dengan Bapak, Ibu, adalah kamar. Kamar pribadi saya, dimana saya menghabiskan ribuan hari di dalamnya. Bercengkerama bersama diri sendiri, tumpukan kertas tugas, dan terkadang bercerita tentang masa lalu dengan om dinding yang siap mendengarkan.
Saat iseng memperhatikan isi kamar yang tidak pernah berubah semenjak kepergian saya ke Jakarta, kemudian mata saya menemukan secarik kertas yang menjuntai dibalik bingkai sebuah foto. Foto saya bersama dua sahabat saya semasa kuliah. Saya tidak ingat benar, kapan saya memperoleh foto ini, dan kenapa foto ini bisa nangkring dengan indahnya di atas meja belajar saya.
Ya. Cukup lama saya memperhatikan foto itu. Mengingat-ingat apa yang terjadi saat itu.
Dan untaian kertas di baliknya pun, memberikan jawaban pasti.
Ya. Ini sebuah hadiah ulang tahun dari sahabat saya tercinta. Dida Angga Permana.
Begini, saya coba tulis ulang kalimatnya:
"Gawe, Damel : Pucy, My sister, Mata Luna Maya, Perut cemblung.
Met ultah yang ke 200, eh salah baru ke 20, tapi wis tuwek, tapi tambah pinter kog, tambah cantiq, TAPI BOONG.
Pesenku:
-Rajin Sholat
-Gak Cengeng
-Tambah Pintar (membohongi Ortu)
-Rajin Makan
-Selalu IKHLAS.
Tekok: : Dida, Angga, TemenMu, SahabatMu, Kethek, AbangMu."
Well, bahasanya cukup roaming kalo tidak diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yang baik dan benar ya?
Sedikit terjemahan:
Gawe = Damel = Untuk
Tapi wis tuwek = Tapi udah tua (sial!)
Tekok = dari
Kurang lebih begitu, bahasa manusianya. hehe
Well, yea, Dida Angga Permana, saya deklarasikan sebagai abang saya semasa kuliah. Kami mulai kenal saat mengikuti organisasi Himpunan di perkuliahan. Kesan awal saya tentang bang Dida: cablak, berisik, rese', nyebelin. Sejak awal dipertemukan, saya langsung merasa sreg, dengan manusia satu itu. Bukan apa-apa, tapi kepiawaiannya memimpin, berbicara di depan umum, kemampuannya memecah kebekuan suasana, dan keahliannya membuat suasana porak poranda, membuat saya betah dekat dengan abang satu ini. Walaupun, tidak jarang, saya diisengin, dijadiin bahan, tapi yah, nggak bakal seru, kalo sahabatan ga pake sebel.
Dia, manusia pertama yang saya akan cari, saya akan hubungi saat masalah apapun melanda hidup saya. Tentunya semasa kuliah, sebelum dan sesudah kuliah, beda situasi.
Dari kalimat-kalimatnya yang dikirimkan bersamaan dengan kado ultah ke 20 saya itu, tersirat, beberapa harapannya tentang diri saya yang ingin sekali dia lihat dan rasakan.
1. Rajin Sholat. Bukan karena saya tidak pernah sholat, jadi dia menyisipkan kalimat ini di awal. Tapi, karena dengan sholat, kita akan lebih bisa mengenal Allah, mendekatkan diri denganNya. Tidak jarang juga, saya diajak untuk benar-benar "sholat" olehnya. Teringat pesan bang Dida tentang sholat: "Memang susah, aku pun juga masih dalam tahap belajar, rasakan sholatmu, kalo perlu ga usah berjamaah dulu, karena kalo belum kebiasa benar-benar sholat, kita bakal susah konsentrasi. Rasakan ruku'mu, rasakan sujudmu, rasakan berdirimu. :')
Dia memberikan banyak pelajaran dan ilmu tentang bagaimana mengisi hati kita yang kosong.
2. Gak Cengeng. Haha. Ini paling susah. Lagi-lagi bukan berarti saya selalu menangis di depannya. Hampir nggak pernah rasanya, saya menangis di depan bang Dida. Tapi dia selalu tahu, kalau saya terlalu sering menangis dalam hati karena salah memaknai segala cobaan dalam hidup ini. Padahal, kalo dibandingkan dengan cobaan yang dia hadapi, cobaan yang dibebankan pada saya, bukanlah apa-apa. Bagai kapas yang diadu timbang dengan mesin printer. Kenapa mesin printer? Karena saya kehabisan kata benda, dan yang ada di depan mata saya saat ini adalah mesin printer. :p . Untuk harapan yang satu ini masih susah. Jujur.
3. tambah pintar (membohongi ortu). Untuk yang satu ini, sebenarnya dia tau, bahwa saya pintar, tapi tidak ingin mengakuinya saja. ahhahaha.. (peace, mas bro). dan kenapa gituh, ditambahi membohongi ortu... bzzzz
4. Rajin makan. hahaha. Ya, saya doyan makan semasa kuliah. Itulah mengapa jadinya saya dipanggil perut cemblung, gembul, dan sebagainya.
5. Selalu IKHLAS. Kenapa Ikhlas nya pake CAPSLOCK? Ya, hampir setiap curhatan berujung dengan kata ikhlas. Bang Dida, menunjukkan pada saya, bagaimana ikhlas itu. Dan saya tahu, bagaimana ikhlas, tapi saya belum bisa mengamalkannya sehebat bang Dida. Sampai saat ini, saya masih meraba-raba, bang, bagaimana menjadi ikhlas. Doakan adikmu ini sukses mencapai tahap ikhlas sesungguhnya. :) Dan terima kasih, atas pinjaman buku Quantum Ikhlasnya. Sungguh bermanfaat.
Aaaahhh, saya sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa saat saya masih punya 'tempat', masih punya orang-orang yang selalu menguatkan dan membuat saya tidak pernah merasa sendiri dan kesepian.
Sekarang saya harus membangun kekuatan saya sendiri, mendirikan "bangunan" saya sendiri. Sungguh, saya merindukan kalian semua.
Semoga setiap langkah bang Dida dan teman-teman selalu mendapat ridho dan karunia Allah SWT. Amin.
Jaga Sahabat-sahabat tercintaku, Ya Allah..
:)
Warm Regards,
RestiPucii
Jadi, kunjungan pertama saya saat tiba di rumah setelah sungkem dengan Bapak, Ibu, adalah kamar. Kamar pribadi saya, dimana saya menghabiskan ribuan hari di dalamnya. Bercengkerama bersama diri sendiri, tumpukan kertas tugas, dan terkadang bercerita tentang masa lalu dengan om dinding yang siap mendengarkan.
Saat iseng memperhatikan isi kamar yang tidak pernah berubah semenjak kepergian saya ke Jakarta, kemudian mata saya menemukan secarik kertas yang menjuntai dibalik bingkai sebuah foto. Foto saya bersama dua sahabat saya semasa kuliah. Saya tidak ingat benar, kapan saya memperoleh foto ini, dan kenapa foto ini bisa nangkring dengan indahnya di atas meja belajar saya.
(dari kiri: Dida Angga Permana, Resti Dian Ramadhani, Septilia Nuri Herawati)
Ya. Cukup lama saya memperhatikan foto itu. Mengingat-ingat apa yang terjadi saat itu.
Dan untaian kertas di baliknya pun, memberikan jawaban pasti.
Ya. Ini sebuah hadiah ulang tahun dari sahabat saya tercinta. Dida Angga Permana.
Begini, saya coba tulis ulang kalimatnya:
"Gawe, Damel : Pucy, My sister, Mata Luna Maya, Perut cemblung.
Met ultah yang ke 200, eh salah baru ke 20, tapi wis tuwek, tapi tambah pinter kog, tambah cantiq, TAPI BOONG.
Pesenku:
-Rajin Sholat
-Gak Cengeng
-Tambah Pintar (membohongi Ortu)
-Rajin Makan
-Selalu IKHLAS.
Tekok: : Dida, Angga, TemenMu, SahabatMu, Kethek, AbangMu."
Well, bahasanya cukup roaming kalo tidak diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia yang baik dan benar ya?
Sedikit terjemahan:
Gawe = Damel = Untuk
Tapi wis tuwek = Tapi udah tua (sial!)
Tekok = dari
Kurang lebih begitu, bahasa manusianya. hehe
Well, yea, Dida Angga Permana, saya deklarasikan sebagai abang saya semasa kuliah. Kami mulai kenal saat mengikuti organisasi Himpunan di perkuliahan. Kesan awal saya tentang bang Dida: cablak, berisik, rese', nyebelin. Sejak awal dipertemukan, saya langsung merasa sreg, dengan manusia satu itu. Bukan apa-apa, tapi kepiawaiannya memimpin, berbicara di depan umum, kemampuannya memecah kebekuan suasana, dan keahliannya membuat suasana porak poranda, membuat saya betah dekat dengan abang satu ini. Walaupun, tidak jarang, saya diisengin, dijadiin bahan, tapi yah, nggak bakal seru, kalo sahabatan ga pake sebel.
Dia, manusia pertama yang saya akan cari, saya akan hubungi saat masalah apapun melanda hidup saya. Tentunya semasa kuliah, sebelum dan sesudah kuliah, beda situasi.
Dari kalimat-kalimatnya yang dikirimkan bersamaan dengan kado ultah ke 20 saya itu, tersirat, beberapa harapannya tentang diri saya yang ingin sekali dia lihat dan rasakan.
1. Rajin Sholat. Bukan karena saya tidak pernah sholat, jadi dia menyisipkan kalimat ini di awal. Tapi, karena dengan sholat, kita akan lebih bisa mengenal Allah, mendekatkan diri denganNya. Tidak jarang juga, saya diajak untuk benar-benar "sholat" olehnya. Teringat pesan bang Dida tentang sholat: "Memang susah, aku pun juga masih dalam tahap belajar, rasakan sholatmu, kalo perlu ga usah berjamaah dulu, karena kalo belum kebiasa benar-benar sholat, kita bakal susah konsentrasi. Rasakan ruku'mu, rasakan sujudmu, rasakan berdirimu. :')
Dia memberikan banyak pelajaran dan ilmu tentang bagaimana mengisi hati kita yang kosong.
2. Gak Cengeng. Haha. Ini paling susah. Lagi-lagi bukan berarti saya selalu menangis di depannya. Hampir nggak pernah rasanya, saya menangis di depan bang Dida. Tapi dia selalu tahu, kalau saya terlalu sering menangis dalam hati karena salah memaknai segala cobaan dalam hidup ini. Padahal, kalo dibandingkan dengan cobaan yang dia hadapi, cobaan yang dibebankan pada saya, bukanlah apa-apa. Bagai kapas yang diadu timbang dengan mesin printer. Kenapa mesin printer? Karena saya kehabisan kata benda, dan yang ada di depan mata saya saat ini adalah mesin printer. :p . Untuk harapan yang satu ini masih susah. Jujur.
3. tambah pintar (membohongi ortu). Untuk yang satu ini, sebenarnya dia tau, bahwa saya pintar, tapi tidak ingin mengakuinya saja. ahhahaha.. (peace, mas bro). dan kenapa gituh, ditambahi membohongi ortu... bzzzz
4. Rajin makan. hahaha. Ya, saya doyan makan semasa kuliah. Itulah mengapa jadinya saya dipanggil perut cemblung, gembul, dan sebagainya.
5. Selalu IKHLAS. Kenapa Ikhlas nya pake CAPSLOCK? Ya, hampir setiap curhatan berujung dengan kata ikhlas. Bang Dida, menunjukkan pada saya, bagaimana ikhlas itu. Dan saya tahu, bagaimana ikhlas, tapi saya belum bisa mengamalkannya sehebat bang Dida. Sampai saat ini, saya masih meraba-raba, bang, bagaimana menjadi ikhlas. Doakan adikmu ini sukses mencapai tahap ikhlas sesungguhnya. :) Dan terima kasih, atas pinjaman buku Quantum Ikhlasnya. Sungguh bermanfaat.
Aaaahhh, saya sangat merindukan masa-masa itu. Masa-masa saat saya masih punya 'tempat', masih punya orang-orang yang selalu menguatkan dan membuat saya tidak pernah merasa sendiri dan kesepian.
Sekarang saya harus membangun kekuatan saya sendiri, mendirikan "bangunan" saya sendiri. Sungguh, saya merindukan kalian semua.
Semoga setiap langkah bang Dida dan teman-teman selalu mendapat ridho dan karunia Allah SWT. Amin.
Jaga Sahabat-sahabat tercintaku, Ya Allah..
:)
Warm Regards,
RestiPucii
Wednesday, 25 July 2012
The Day When I Finally Visit Hospital for Myself Part. II
Well, oke, saya akan lanjutkan bagian ini. Bagian dimana menjadi yang pertama selama 23 tahun hidup saya. Jadi saya pertama kali ini penyakitan dan diharuskan untuk opname. Berobat ke rumah sakit aja, ini yang pertama. Selama ini, hanya sakit ringan dan cukup dengan berobat ke bidan dekat rumah. Yang jelas, bukan karena saya pengen gaya-gaya an, sodara-sodara. Karena menginap di rumah sakit pemerintah hanya membuat saya sakit hati dan sakit tulang.
Jadi, malam itu, awal bulan Juli, bukannya ujug-ujug saya tersungkur di UGD sebuah rumah sakit milik pemerintah. Singkat cerita, saya sakit perut parah, jadi teman sekamar saya langsung melarikan saya ke UGD.
Dari sejak turun dari taksi, saya sudah tidak kuat jalan, dibawakannya lah oleh seorang Bapak paruh baya, entah siapa itu, membawakan troli, bukan troli juga sih, pokoknya tempat tidur yang ada rodanya itu loh, dibantu Mbak Sri (teman kos.red), Bapak paruh baya itu mengangkat saya (agak kesusahan kayaknya, padahal saya langsing loh, sumpah), sampai akhirnya terbaring di tempat tidur super keras itu dan di doronglah itu troli yang saya tiduri ke UGD.
Sampai UGD, tetap dengan posisi tidur meringkuk, megangin perut, merintih, meringis, dan ga berhenti istighfar. Sumpah, saya istighfar ga berhenti waktu itu, beneran takut kalo saya mati saat itu juga. Baru itu, saya ngerasa takut mati. Beneran takut. Ga bohong.
Baiklah, untuk part takut mati, bisa dibahas dilain cerita.
Lanjut ke rumah sakit pemerintah, jadi dengan kondisi yang sedemikian parah (menurut saya), para dokter dan perawat bahkan tidak ada yang heboh. Padahal di bayangan saya, atau paling tidak seperti yang saya pernah lihat di tipi-tipi, kalo uda masuk UGD kesannya heboh, ada yang nangis, trus ada dokter yang pake masker di muka trus di ujung cerita geleng-geleng. Ampun, naudzubillah. Jangan sampe ngalamin begituan.
Jadi, saya ga sempet merhatiin bener-bener keadaan sekitar lah ya, uda konsen ama perut. Lha koq, ada yang ketawa, ada yang ngobrol, ada yang teriak-teriak ga jelas. Lha terus?
Hello, ini UGD, dan ada pasien baru masuk. Lumayan lama tuh, saya dianggurin ga jelas. Sampe akhirnya aku denger, suara "mungkin dokter" cowok yang menginterogasi Mbak Sri, tentang apa yang saya alami. Mbak Sri pun menjelaskan sekenanya. Si "mungkin dokter" ini tidak kunjung menghampiri saya. Sesaat kemudian, jreeeeng , lha koq yang nyamperin saya malah "mungkin dokter (2)", tapi mbak-mbak. Tanpa senyum, si "mungkin dokter (2)" nanyain apa yang saya rasakan. Sambil merintih, meremas perut, saya menjelaskan sekenanya. Si "mungkin dokter (2)" dengan tanpa ekspresi memegang-megang perut saya. Alih-alih masang stetoskop ke telinganya, terus menekan perlahan perut sebelah kiri saya.
Kemudian......
Hilang.
Bukan, bukan hantu. Tapi terus ditinggal pergi gitu aja.
Datanglah mbak Sri. Dengan setia dan sabar menungguiku sambil menatap tidak tega kepadaku. Lama sekali saya dianggurin, berdua dengan mbak Sri. Mbak Sri dengan mata sayup menahan kantuk dan lelah, masih sabar dan mencoba menghiburku sekenanya.
Beberapa belas menit kemudian, datanglah mas "mungkin dokter" dan mbak "mungkin dokter(2)". Masing-masing membawa stetoskopnya. Bergantian memegang-megang perut.
"mungkin dokter" berkata , koq ga ada suaranya ya? koq ga kedengeran apa-apa?
"mungkin dokter (2)" menekankan stetoskopnya ke perut saya (lagi), "eh iyaa, ga ada suaranya".
Kemudian...
Hilang.
Bukan, bukan hantu lagi.
Dalam hati saya bertanya-tanya. apa yang seharusnya bunyi dari dalam perut saya? Dan kenyataannya apa yang tidak bunyi? Detak jantung ya ndak mungkin, wong yang dipencet-pencet perut.
Beberapa belas menit kemudian, si mbak "mungkin dokter (2)" dateng, bawa obat.
Inih, tolong dimasukkan lewat dubur, sekarang juga.
Alamaaaak..!
bersambung...
Jadi, malam itu, awal bulan Juli, bukannya ujug-ujug saya tersungkur di UGD sebuah rumah sakit milik pemerintah. Singkat cerita, saya sakit perut parah, jadi teman sekamar saya langsung melarikan saya ke UGD.
Dari sejak turun dari taksi, saya sudah tidak kuat jalan, dibawakannya lah oleh seorang Bapak paruh baya, entah siapa itu, membawakan troli, bukan troli juga sih, pokoknya tempat tidur yang ada rodanya itu loh, dibantu Mbak Sri (teman kos.red), Bapak paruh baya itu mengangkat saya (agak kesusahan kayaknya, padahal saya langsing loh, sumpah), sampai akhirnya terbaring di tempat tidur super keras itu dan di doronglah itu troli yang saya tiduri ke UGD.
Sampai UGD, tetap dengan posisi tidur meringkuk, megangin perut, merintih, meringis, dan ga berhenti istighfar. Sumpah, saya istighfar ga berhenti waktu itu, beneran takut kalo saya mati saat itu juga. Baru itu, saya ngerasa takut mati. Beneran takut. Ga bohong.
Baiklah, untuk part takut mati, bisa dibahas dilain cerita.
Lanjut ke rumah sakit pemerintah, jadi dengan kondisi yang sedemikian parah (menurut saya), para dokter dan perawat bahkan tidak ada yang heboh. Padahal di bayangan saya, atau paling tidak seperti yang saya pernah lihat di tipi-tipi, kalo uda masuk UGD kesannya heboh, ada yang nangis, trus ada dokter yang pake masker di muka trus di ujung cerita geleng-geleng. Ampun, naudzubillah. Jangan sampe ngalamin begituan.
Jadi, saya ga sempet merhatiin bener-bener keadaan sekitar lah ya, uda konsen ama perut. Lha koq, ada yang ketawa, ada yang ngobrol, ada yang teriak-teriak ga jelas. Lha terus?
Hello, ini UGD, dan ada pasien baru masuk. Lumayan lama tuh, saya dianggurin ga jelas. Sampe akhirnya aku denger, suara "mungkin dokter" cowok yang menginterogasi Mbak Sri, tentang apa yang saya alami. Mbak Sri pun menjelaskan sekenanya. Si "mungkin dokter" ini tidak kunjung menghampiri saya. Sesaat kemudian, jreeeeng , lha koq yang nyamperin saya malah "mungkin dokter (2)", tapi mbak-mbak. Tanpa senyum, si "mungkin dokter (2)" nanyain apa yang saya rasakan. Sambil merintih, meremas perut, saya menjelaskan sekenanya. Si "mungkin dokter (2)" dengan tanpa ekspresi memegang-megang perut saya. Alih-alih masang stetoskop ke telinganya, terus menekan perlahan perut sebelah kiri saya.
Kemudian......
Hilang.
Bukan, bukan hantu. Tapi terus ditinggal pergi gitu aja.
Datanglah mbak Sri. Dengan setia dan sabar menungguiku sambil menatap tidak tega kepadaku. Lama sekali saya dianggurin, berdua dengan mbak Sri. Mbak Sri dengan mata sayup menahan kantuk dan lelah, masih sabar dan mencoba menghiburku sekenanya.
Beberapa belas menit kemudian, datanglah mas "mungkin dokter" dan mbak "mungkin dokter(2)". Masing-masing membawa stetoskopnya. Bergantian memegang-megang perut.
"mungkin dokter" berkata , koq ga ada suaranya ya? koq ga kedengeran apa-apa?
"mungkin dokter (2)" menekankan stetoskopnya ke perut saya (lagi), "eh iyaa, ga ada suaranya".
Kemudian...
Hilang.
Bukan, bukan hantu lagi.
Dalam hati saya bertanya-tanya. apa yang seharusnya bunyi dari dalam perut saya? Dan kenyataannya apa yang tidak bunyi? Detak jantung ya ndak mungkin, wong yang dipencet-pencet perut.
Beberapa belas menit kemudian, si mbak "mungkin dokter (2)" dateng, bawa obat.
Inih, tolong dimasukkan lewat dubur, sekarang juga.
Alamaaaak..!
bersambung...
Wednesday, 11 July 2012
The Day when I Finally Visit Hospital for Myself (Part. 1)
Adalah hari Minggu, tepatnya Minggu dini hari pukul 12.30, aku terbangun, karena isi perut berasa diremas-remas. Tidak tahu, apa sebabnya, hanya dugaan-dugaan yang tidak berdasar. Aku coba ke belakang (bukan, bukan belakang pintu), ke kamar mandi maksudku. Cukup lama aku memposisikan diriku layaknya orang yang buang air ala tradisional (jongkok). Tapi enggak ada yang keluar sedikitpun (okelah aku bohong, karena sesungguhnya ada, walaupun sangat sedikit). Perut ini terus melilit, sampai aku bingung memposisikannya di tempat tidur. Tengkurap, terlentang, miring kanan, miring kiri, nggak ada yang bisa aku lakukan, selain merintih dan menahan.
Akhirnya, setelah bergelut sekian menit dengan rasa sakit, aku mengaku kalah. Aku membangunkan teman sekamarku (Mbak Sri).
"Mbak, perut aku sakit banget. Kenapa ya?"
Mbak Sri dengan sigap tapi setengah sadar, "Hooo, kau kenapa Res?"
"Enggak tahu, yang pasti perutku melilit banget", jawabku sambil setengah merintih menahan sakit.
Mbak Sri pun terlihat panik, otomatis dia langsung membuatkan ku teh panas, dan memaksaku untuk ke rumah sakit nanti kalau matahari sudah terbit.
Tapi nampaknya sakit perutku tidak ingin berdamai, dia meremas semakin keras.
"Aku ga bisa nunggu besok kayaknya mbak, aku butuh ke dokter sekarang", kataku tertatih, (kaya sinetron).
Taksi pun dipesan. Sambil bersiap-siap, aku, tetap dengan badan membungkuk menahan sakit, perlahan rasa mual ikut meramaikan suasana nampaknya. Aku pun memakai baju seadanya, yang disiapkan Mbak Sri untukku. Belum sempat memakai penutup kepala, dan Byuuurrrrrrrrr... Aku jatuh tersungkur, dan banyak sekali air yang keluar dari mulutku. Mbak Sri yang baru dari luar untuk mengecek taksi sudah datang atau belum, langsung kaget, melihatku tersungkur dan lantai sudah tergenang air. Semakin panik, Mbak Sri membangunkan Mbak Atun (Ibu muda penjaga laundry di tempat kosan kami).
Mbak Sri langsung membangunkan ku, memasangkan jaket untukku, menyiapkan sepatu untuk kupakai, sembari mba Atun membersihkan muntahan airku. Eh, ga cuma air sih, kayaknya aku melihat remahan daging buah kelengkeng yang kumakan sebelum tragedi Remasan Perut dan Rasa Mual yang Ikut Meramaikan. Hmmm...
Sambil buru-buru, aku masuk ke dalam taksi, dan peremas perutku tidak mau sabar. Malah semakin dan semakin. Sontak yang ada di bayanganku adalah saat-saat Sakaratul Maut (Saat roh manusia dicabut dari tubuhnya). Saat-saat paling menyakitkan di sisa hidup seluruh umat manusia. Dimana nadi-nadi terputus, dari ujung jempol kaki, sampai ujung kepala. Sekarang bayangkan saja, kalau satu nadi kita teriris sedikit saja, kita sudah merintih, bagaimana kalo perlahan nadi di tubuh kita terputus, nggak sanggup kayaknya aku bayangin. Yang pasti, jauh dan jauh lebih sakit daripada si peremas perut ini.
Ah sudahlah, pikiranku semakin kemana-mana saat itu.
Sampailah di RS "xx" milik pemerintah. Sengaja milih RS itu, karena asuransi kesehatan yang aku punya berlaku paling ampuh disana.
Disanalah aku. Di IGD Rumah Sakit milik Pemerintah. Dimana segalanya menjadi gratis saat kau punya asuransi. Tapi bersiaplah dengan dokter-dokter muda yang tidak tahu apa yang harus dilakukan saat melihat seorang tersungkur menahan sakit.
Untuk masa-masa aktifku di Rumah Sakit itu, akan diceritakan di bab selanjutnya.
Kalau disini, ih wow. Pusing aku nulisnya, apalagi yang baca (kalo ada).
:p
Warm Regards,
RestiPucii
Subscribe to:
Posts (Atom)






