Monday, 28 May 2012

"Karena lebih membahagiakan, saat kita ikut berbahagia atas kebahagiaan orang lain"

Such a Big Fly, I've Ever Seen

Those picture, I took by my camera phone. Such a big and rare fly. :(


I don't really know, what kind of fly it was. It's the biggest fly, I've ever seen. It has two big and red eyes. Since some days a go, approximately 3 days a go, in my office, especially in my room, there were so many flies like that. It flew around me and all my friend in that room. I didn't know what happened it was. As I know, my room is always clean and have a good fragrant. Because there is no wet garbage inside my room, I also put room refresher there.  
Hmm... Such disturbing, and made me loose focus, any time it flew in front of my computer. 


Do you ever think that those kind of insect's very disgusting? It flies around the garbage, perch in garbage and then attack your food. In people's mind, fly has a very bad image. It's categorized into a kind of insect that bring disease into human's life. 
But, don't you know that those kind of insect has a useful and unique distinction or idiosyncrasy. There was one hadist about fly :
Rasulullah SAW bersabda, " Apabila seekor lalat masuk ke dalam minuman salah seorang kalian, maka celupkanlah ia, kemudian angkat dan buanglah lalatnya sebab pada salah satu sayapnya terdapat penyakit dan pada sayap lainnya ada obatnya" (HR. Bukhari, Ibn Majah dan Ahmad)
So, that's the truth about fly. There're so many research about wings of fly. So, there're many diseases/poisons in one of their wing, and the medicine/antidote in another wing.
Subhanallah. So don't we judge only the bad things about fly, but we should remember that everything Allah has created, no one/ nothing useless. They have their own benefit beside their weakness. 
Hope this simple article could be useful.


Be thankful always, in order to make our life richer...


Warm Regards,
RestiPucii

Thursday, 24 May 2012

Seberapa berat bebanmu?

Karena Tuhan tidak akan memberikan cobaan lebih dari kemampuan manusia.
Terjawab sudah, misteri keTuhanan yang satu itu. Lebih dari ribuan kali aku meragukan kemampuan dan kekuatan diri sendiri. Lebih dari ratusan kali,aku dibuat jatuh untuk kemudian bangkit dan menjadi lebih kuat. Dan ratusan ribu kali, aku tidak menyadarinya.
Tuhan, dengan segala kuasaNya, membuatku tidak mampu berkata apa-apa dalam menghadapi setiap cobaan yang Dia berikan.
Seperti cobaan yang baru-baru ini aku hadapi.

Mungkin, tidak semua orang akan menganggap apa yang aku alami ini sebagai cobaan. Entah aku yang terlalu pesimis, berpikir naif, atau apalah sehingga, aku pernah merasakan nya begitu berat di awal sampai aku hampir bisa melaluinya.

Jadi, beberapa bulan terakhir, sejak awal 2012, terjadi gonjang ganjing yang tidak mengenakkan di instansi tempatku bekerja. 
Diawali dari pergantian Kepala Bagian, di bagianku. Dan setelah itu, sangat cepat perkembangan yang tidak bisa terdefinisikan. Santer kabar yang aku tahu, perubahan ini menuju ke arah yang lebih baik. Tapi, suara-suara orang-orang yang tidak mampu menerima perubahan, berkata sebaliknya. 
Kepala bagian yang berubah, sistem berubah, cara kerja berubah, tingkat kepenatan berubah, dan beberapa perubahan-perubahan lainnya yang mengikuti. Dari beberapa perubahan itu, hanya satu yang aku sedikit susah mengikuti. Tentang tupoksi (tugas pokok dan fungsi) dan tugas-tugas lainnya yang aku rasa, aku belum waktunya menjamah bagian itu. 
Tertatih aku mencoba mempelajari satu persatu dan perlahan. Minim bimbingan, dan aku dituntut untuk belajar cepat dan tepat. Berjalan terseok di awal. 
Saat itu, saat terlemahku. Aku merasa begitu banyak beban yang ada di pundakku. Aku merasa tidak sanggup. Aku hampir ingin selalu menangis setiap malam. Aku hampir menyerah dan berputus asa saat pekerjaan semakin bertumpuk. Dicicil setiap hari pun, berasa tidak berkurang. Tekanan di kantor semakin bertambah dari hari ke hari. Deadline menghantui. 
Hampir setiap hari aku mengeluh. Mengeluh pada diri sendiri, mengeluh pada pacar, mengeluh pada teman, mengeluh pada Tuhan dalam hati. Mungkin disinlah satu kesalahanku. Hampir setiap hari aku bertengkar dengan pacar, hanya gara-gara aku yang sudah terlalu lelah untuk sekedar diajak mengobrol ringan. Dan kami kehilangan waktu-waktu intim untuk mengobrol atau sekedar bercanda lewat sms atau telepon.

Dan akhirnya tangisku pun tumpah. Diantara sujudku, aku berserah, berpasrah.
Sesenggukan, aku mencoba tidak memikirkan pekerjaan sedikitpun, tidak memikirkan apapun, hanya ada pada satu titik, pikiranku terpusat. Seakan semuanya tidak berarti lagi. Dan aku mencurahkan semuanya tanpa kata. Hanya air mata dan dan deruan nafas yang berbicara. Seakan lawan bicaraku sudah memahami, tanpa perlu aku berbanyak kata. Setelah beberapa senggukan, dan tenggorokan terasa sudah sangat kering, aku berasa seperti bangun dari tidur. Berasa aku terpejam sudah sangat lama. Aku tersadar dan seperti orang linglung. Lupa, apa yang baru saja aku lakukan. Yang aku ingat, aku hanya habis menangis. 
Alat sholat aku bereskan, dan aku beranjak tidur cepat. Seakan ingin segera bertemu besok. 
Datang, dan masuk ruangan. Seperti biasa, saat aku buka laci dan rak, tumpukan kertas dan map langsung menyeruak keluar. Seakan berebutan, minta diselesaikan. 
Hari itu aku menjalaninya sangat ringan. Seakan tidak ada beban dan deadline. Seharian aku berkutat dengan pekerjaan. Seakan ada yang mengarahkan, seakan ada yang menemani, aku mengerjakan denga sangat cepat, tanpa terburu-buru, dan sangat bersemangat.
Hari-hari setelah pengalaman 'bangun tidur' ku, aku rasakan semakin ringan, semakin bersemangat menyelesaikan semua pekerjaan. Mulai menganggap semuanya tidak lagi beban yang tidak bisa aku kuasai. Mungkin, aku sudah mendapatkan alurnya. Aku berasa bisa bernafas lagi. Dan hari ini, seluruh deadline sudah terkerjakan. Dan aku, 'LEGA'.
Rasanya lebih dari bersyukur yang ingin aku lakukan. Di saat seperti ini pun aku sukar berkata-kata. Seakan lawan bicaraku berkata "Tuh kan, bisa...".

Pelajaranku kali ini adalah, 
Tuhan tahu takaran pasti untuk beban yang bisa diangkat sepasang bahu manusia, dan Tuhan tidak akan pernah salah hitung. 
Itu versiku.

Kalo versi orang-orang :
Tuhan tidak akan pernah memberi cobaan  melebihi kemampuan hambanya.
Karena hati pun bisa tersenyum, walaupun tak terlihat, tapi terasa. Dan hati ku tersenyum saat menulis ini.
:)



a huge thanks for the Invisible Hand, 
Best regards and fully thankful.

Also thanks to my boy, @dwiNGRHA for showing me a strength, to stand and believe in God more and more. Jangan bosen ngingetin aku ya, sayang.

To all my friends, thanks for listening me always. 
To my beloved family, thanks for showing me faithfulness and an endless love.

Semoga pelajaran kali ini bermanfaat untuk kita semua.

Warm Regards,
RestiPucii

Tuesday, 22 May 2012


No need to describe, but I Love You.

:)

Tisu Putih dan Noda Kopi

Tentang bagaimana kita memandang seseorang, menilai seseorang. 
Diawali dari tema kencan yang biasa saja awalnya. Aku dan pacarku berjalan-jalan, makan di suatu restoran pasta dan berujung pada sebuah kafe mungil di pusat ibukota. 
Memang, dia (pacarku) berjanji akan membagi sesuatu denganku. Sebuah pemahaman sederhana, yang setiap orang pasti mampu mengerti, tanpa diikuti dengan pemahaman yang pasti, dan minim implikasi di kehidupan sehari-hari. 
"O iya beb (panggilan sayangnya padaku), kayaknya ada sesuatu yang belum aku ceritain ke kamu", sergahnya mendadak.
"Apa itu?", tanyaku tak sabar.
Lantas dia mengambil selembar tisu. 
"Kamu liat, tisu ini warna apa?", tanya nya padaku
"Putih?", jawabku ragu, takut kalau-kalau aku sudah buta warna.
Diikuti anggukan dan bonus senyuman misterius khas nya.
Lama dia mencari sesuatu. Aku membantunya celingukan, tanpa tau apa yang dicarinya. Ternyata dia membutuhkan spidol. Karena aku, dia pun tidak ada yang membawa pena, akhirnya tak habis akal dia mengambil sedotan dari minumanku, mencelupkannya ke dalam cangkir kopi miliknya, lantas meneteskannya ke selembar tisu yang tadi diambilnya.
Setetes kecil, sampai-sampai aku sedikit susah melihatnya, saking tipisnya.
"Sekarang, apa yang kamu lihat?", tanya nya sambil memperlihatkan tisu putih tadi, yang sekarang ada setetes noda kopi.
"Emmmm, ada kopinya", jawabku percaya diri sambil nyengir. 
"Ini yang aku maksud. Anggap tisu putih ini kebaikan seseorang, dan setetes kopi ini kesalahan atau perbuatan buruk yang sudah dilakukannya. Kebanyakan orang, terlalu fokus pada setetes kecil kopi yang ada di hamparan tisu putih ini. Padahal kalo dilihat sekilas, warna putih yang ada masih sangat dominan, dibanding warna hitam kopi. Tapi, inilah kenyataanya, manusia kebanyakan selalu berfokus pada kesalahan manusia lainnya. Kesan awal yang sempurna, akan lebur seketika, saat kesalahan kecil sengaja atau tidak sengaja dilakukan", jelasnya panjang lebar.
"Lalu, kalo suatu saat tisu itu sudah didominasi noda, apakah kita tetap harus mencari warna putih yang masih tersisa?", tanyaku polos.
"Ya...", jawabnya dengan bonus senyum misteriusnya (lagi).
Aku pun tersenyum bangga. Bangga punya pacar, eh calon suami (amin) yang bisa memberiku pelajaran semacam ini. 
Satu lagi pelajaran yang bisa kami bagi bersama.
Entah darimana sumber yang dia dapat, aku lupa menanyakannya.
Tapi, ini sudah pelajaran yang kesekian yang dia bagi denganku.
Bahagia, menikmati sesi belajar bersama yang dia buat di setiap acara kencan.
:)


Dont judge people by their mistakes, but kindness that they've made.


Semoga pelajaran yang kami bagi kali ini, bermanfaat buat kita semua yaa..
Amin...




Warm Regards,
RestiPucii

Monday, 21 May 2012

Remake-up

Well, I've remade up this blog. Hope it will be much better and could give me more passion to have my own handwriting. Also I have changed the title, become "R for Rainbow".
And fully expecting, this blog can more represent my self, my personality, and be useful for others.
:)


Thanks for visiting..


Warm Regards,
Resti.Pucii

Friday, 18 May 2012

Daddy, how are you?


The best father of mine. 
Mr. Soepantjoro.
He was born on December 24th 1959. Yes, He is not young anymore. I dont know exactly where he was born, and everytime I asked for, he would be angry and he would say "Ah, you always don't care with me". (Sorry, dad :D ) hehehe... but of course, he's not serious.
He's the first son on his family. Not because I'm her daughter, I would like to say that my father is very handsome. :D
I called him "amah" from the word "Rama".
Rama has the same meaning with father, it usually used by Javanese people.
My father, very seldom, be angry with her son and daughters. Whenever he want to be angry, he's only keep silent. Not talk too much.
Every decision in my family, is made by him. 
When my friends asked me to go to somewhere, my father was the first person who need to know anything, such as, where I will go, with whom I will go, how long I will go with them, etc. Sometimes, its so annoying, but recently, I understand that he only doesn't want to hear anything goes wrong with me, with all his kids. 
I love my Amah.